Daerah  

Dinas Koperasi dan UMKM Sultra Dorong Pengembangan Maggot Melalui Program Kopi Manis

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sultra, Dr LM Shalihin dalam pameran dan seminar implementasi proyek perubahan pelatihan kepemimpinan Nasional tingkat II angkatan ke-XXXV di Aula BPSDM Sultra.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sultra, Dr LM Shalihin dalam pameran dan seminar implementasi proyek perubahan pelatihan kepemimpinan Nasional tingkat II angkatan ke-XXXV di Aula BPSDM Sultra.

MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Sulawesi Tenggara (Sultra) terus mengoptimalkan pengembangan budidaya maggot. Program ini digagas sebagai bagian dari ekonomi sirkular berkelanjutan yang dikenal dengan nama Koperasi Berbasis Masyarakat Organik Sirkular atau Kopi Manis.

Program ini diperkenalkan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sultra, Dr LM Shalihin dalam pameran dan seminar implementasi proyek perubahan pelatihan kepemimpinan Nasional tingkat II angkatan ke-XXXV di Aula BPSDM Sultra, Selasa (17/12).

Shalihin menjelaskan bahwa saat ini program ini difokuskan di Kabupaten Konawe, di mana pengembangan koperasi maggot tengah dilakukan. Menurutnya, pembentukan koperasi ini bertujuan mengatasi persoalan sampah organik sekaligus memberdayakan masyarakat, terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem.

“Program ini diawal kita fokus di Kabupaten Konawe tepatnya di Desa Lahotutu, Kecamatan Wonggeduku. Kita buatkan bak sampah, kemudian kita buatkan legalisasi usahanya dalam bentuk koperasi,” ungkap Shalihin.

Dikatakan, program ini melibatkan sistem berbasis inti plasma, di mana masyarakat miskin diberdayakan dengan penyediaan rumah maggot serta pembinaan yang mencakup edukasi kewirausahaan. Dinas Koperasi dan UMKM bertindak sebagai fasilitator legalisasi usaha koperasi, pengelolaan perizinan, dan pengembangan budidaya maggot. Nantinya, koperasi akan membeli hasil produksi maggot dari masyarakat dengan harga yang telah ditentukan.

“Melalui koperasi, kita ingin menciptakan kepastian pembelian hasil maggot dari masyarakat. Maggot yang dihasilkan bisa diolah menjadi pakan ternak, terutama pakan ayam. Ini memberikan nilai ekonomi yang cukup signifikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia mengungkapkan bahwa saat ini produksi maggot di Konawe sudah mulai berjalan. Satu rumah maggot dapat menghasilkan 20 kilogram maggot dalam satu kali panen, yang dilakukan dua kali dalam sebulan. Dengan harga jual ke koperasi sebesar Rp6.000 per kilogram, masyarakat bisa mendapatkan pendapatan sekitar Rp240.000 per bulan.

“Kami berencana memperluas program ini ke beberapa kabupaten/kota  lain. Harapannya, setiap kabupaten di Sultra memiliki koperasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, pihaknya juga merencanakan pembentukan peraturan gubernur (Pergub) guna mendukung percepatan pendirian koperasi khusus maggot di seluruh Sultra. Dengan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Program ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif dalam pengelolaan sampah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin.

“Kami akan terus melakukan edukasi kepada para petani maggot agar mereka memahami sistem ekonomi sirkular yang efektif dan berkelanjutan,” tegasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!