MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Di balik senyum hangatnya saat menerima gelar sarjana, tersimpan perjalanan panjang penuh air mata, kehilangan, dan pengorbanan. Adalah Windi Putri Handina, gadis asal Bombana, yang membuktikan bahwa prestasi bisa menjadi jalan keluar dari keterbatasan hingga akhirnya meraih gelar Sarjana Pendidikan tanpa skripsi.
Windi merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) Kendari. Selama kuliah, ia aktif menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PGSD dan menjadi salah satu sosok perempuan inspiratif di kampusnya.
Namun, keberhasilan itu tidak datang dengan mudah.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Windi telah kehilangan kedua orang tuanya. Ia kemudian diasuh oleh tantenya, yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah dalam hidupnya. Dari kondisi itulah, lahir tekad kuat dalam diri Windi bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah masa depan.
“Saya pernah merasa kecil dan tidak percaya diri. Tapi saya belajar bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati,” kata Windi saat diwawancarai, Minggu (6/7).
Selama kuliah, Windi aktif dalam berbagai program nasional. Ia mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas Padjadjaran, terlibat dalam Kampus Mengajar di daerah terpencil, hingga mengikuti program magang konservasi laut dalam MSIB.
Tak hanya itu, Windi juga mewakili Unsultra dalam ajang Mahasiswa Berprestasi LLDIKTI Wilayah IX, serta berhasil menyabet medali perak dan perunggu di Olimpiade Sains Nasional. Berbagai capaian inilah yang kemudian dikonversi menjadi pengganti skripsi, melalui jalur prestasi yang diakui secara resmi oleh kampus.
Windi bahkan telah memublikasikan dua karya ilmiah, salah satunya di jurnal nasional terakreditasi SINTA 3. Dengan pencapaian tersebut, ia resmi meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).
Namun, di balik sederet prestasi itu, tersimpan perjuangan yang panjang dan melelahkan.
“Ada masa-masa saya harus begadang menyelesaikan laporan sambil tetap hadir di kelas. Waktu libur saya gunakan untuk pelatihan dan program luar kampus. Tapi semua itu saya jalani dengan ikhlas, karena saya tahu saya sedang berjuang bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi untuk keluarga juga,” ujarnya.
Menurut Windi, yang paling berharga dari semua itu bukan sekadar piagam atau gelar, melainkan momen saat ia menyadari bahwa dirinya mampu berdiri sejajar dengan mahasiswa dari kampus-kampus besar di Indonesia.
“Dulu saya sering merasa tidak cukup. Tapi sekarang saya tahu, asal sungguh-sungguh, kita semua punya ruang untuk bersinar,” ucapnya sambil berkaca-kaca.
Ia juga menitipkan pesan sederhana kepada mahasiswa lainnya:
“Jangan takut mencoba, jangan takut gagal. Kita tidak harus hebat di awal, yang penting mau belajar dan konsisten. Jangan lupa juga jaga kesehatan mental dan tetap waras. Istirahat itu juga bagian dari perjuangan,” ungkapnya.
Kini, Windi tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Meski belum ada kepastian, ia berharap bisa mendapatkan beasiswa agar bisa terus belajar dan memberi kontribusi lebih besar.
“Semoga ke depan ada jalan. Saya ingin terus belajar agar bisa memberi dampak lebih besar, terutama untuk daerah asal saya di Bombana,” tutupnya. (Red)












