;

Kembangkan AI untuk Prediksi Longsor, Dua Siswi SMAN 1 Kendari Raih Juara 2 Kompetisi Nasional ITS

MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kendari. Dua siswinya berhasil meraih Juara 2 dalam Kompetisi Riset Matematika yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Kedua siswi tersebut yakni Fiore Dominique Meitri Hexan dan Nayla Devina Azzahra, yang saat ini duduk di kelas XII.D. Keduanya berhasil mengharumkan nama sekolah dan daerah melalui penelitian di bidang matematika komputasi dengan mengembangkan model kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi potensi tanah longsor.

Dalam penelitian tersebut, keduanya didampingi guru pembina, Zulfaidil, S.Pd., Gr., M.Si., yang turut memberikan arahan dan pendampingan selama proses pengembangan riset hingga mengikuti kompetisi tingkat nasional.

Fiore Dominique Meitri Hexan menjelaskan, keikutsertaan mereka dalam kompetisi tersebut bermula setelah mendapatkan informasi mengenai penyelenggaraan lomba. Keduanya kemudian melakukan pendaftaran secara daring dan menyusun karya tulis ilmiah sebagai salah satu tahapan seleksi.

Ia mengatakan, penelitian yang dikembangkan berfokus pada pemanfaatan teknologi AI untuk menganalisis stabilitas lereng sebagai upaya mendukung mitigasi bencana tanah longsor.

“Kami merancang model AI yang dilatih dengan memasukkan sejumlah parameter fisika untuk melakukan analisis stabilitas lereng. Riset ini kami kerjakan dalam bidang matematika komputasi,” jelas Fiore saat diwawancarai di SMAN 1 Kendari, Senin (2/11/2026).

Setelah melalui tahapan seleksi karya tulis ilmiah, tim mereka berhasil masuk enam besar pada bidang yang diikuti. Capaian tersebut mengantarkan keduanya melaju ke babak final yang dilaksanakan secara langsung di Surabaya pada 4 Oktober 2026.

Pada babak final, peserta diwajibkan mempresentasikan hasil penelitian yang telah disusun dalam bentuk karya tulis ilmiah. Selain presentasi, mereka juga mengikuti sesi pameran poster untuk menjelaskan hasil riset kepada dewan juri.

Fiore mengaku sempat merasakan tekanan ketika harus mempresentasikan hasil penelitian dan menghadapi penilaian secara langsung di hadapan dewan juri. Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi mereka dalam mengikuti kompetisi tingkat nasional.

Sementara itu, Nayla Devina Azzahra mengungkapkan, keberhasilan mereka meraih prestasi tersebut tidak terlepas dari dukungan dan pendampingan intensif pihak sekolah, khususnya guru pembina.

Menurutnya, selama proses penyusunan penelitian, mereka rutin melakukan konsultasi dengan guru pembina, baik secara langsung di sekolah maupun melalui komunikasi daring.

“Kami sering konsultasi sepulang sekolah untuk membahas penelitian yang sedang dikerjakan. Kalau ada yang belum kami pahami, kami membuat janji untuk bertemu langsung dengan guru pembina agar mendapatkan penjelasan,” ungkap Nayla.

Ia mengaku sangat bersyukur atas pencapaian Juara 2 tersebut. Terlebih, kompetisi yang diikuti mempertemukan peserta dari berbagai sekolah dan provinsi di Indonesia.

“Senang sekali, Alhamdulillah. Apalagi ini sudah membawa nama sekolah dan daerah di tingkat nasional. Kami juga bisa pulang membawa piala. Ke depannya, insyaallah prestasi ini bisa lebih ditingkatkan lagi,” tuturnya.

Di tempat yang sama, guru pembina Zulfaidil, S.Pd., Gr., M.Si., mengatakan bahwa ide awal penelitian tersebut berasal dari kedua siswanya yang memiliki ketertarikan untuk mengembangkan teknologi AI dalam menganalisis stabilitas lereng.

Melihat kesesuaian topik penelitian dengan bidang keilmuannya, khususnya terkait mitigasi bencana, Zulfaidil kemudian membantu mengembangkan dan menyempurnakan gagasan tersebut hingga menjadi sebuah karya riset.

Ia menjelaskan, proses pembinaan dilakukan secara intensif. Kedua siswi tersebut bahkan kerap menemuinya setiap pulang sekolah untuk berdiskusi, melakukan konsultasi, serta memperbaiki hasil penelitian.

Dalam pengembangannya, mereka memodifikasi model Physics-Informed Neural Network (PINN) dengan menyesuaikannya terhadap data yang digunakan dalam penelitian. Model tersebut mengintegrasikan pendekatan kecerdasan buatan dengan persamaan fisika dan matematika untuk menghasilkan simulasi numerik.

“AI-nya kami kembangkan sendiri dengan memodifikasi model yang sudah ada, kemudian disesuaikan dengan data yang kami miliki. Kami juga memasukkan formula fisika dan matematika sehingga menghasilkan simulasi numerik yang diharapkan dapat mempercepat proses prediksi potensi longsor,” jelas Zulfaidil.

Zulfaidil mengaku bangga sekaligus terkejut dengan pilihan topik penelitian yang diangkat kedua siswinya. Pasalnya, materi tersebut tergolong cukup kompleks dan belum menjadi bagian dari pembelajaran umum di tingkat SMA.

Bahkan, menurutnya, topik tersebut lebih banyak dipelajari pada jenjang perguruan tinggi. Meski demikian, keberanian kedua siswi mengambil tema penelitian di bidang mitigasi bencana menjadi tantangan sekaligus motivasi tersendiri dalam proses pembinaan.

“Saya cukup kaget ketika mereka memilih topik ini karena sebenarnya materi tersebut tidak pernah dipelajari di SMA. Ini termasuk topik yang cukup berat, bahkan saya sendiri mempelajarinya ketika kuliah. Namun, saya senang karena mereka berani mengambil penelitian di bidang ini,” pungkasnya. (sal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

;