MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas Sulawesi Tenggara (Sultra) merawat pasien Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti sampai, Jumat (12/1) telah mencapai 42 pasien. Olehnya masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kebersihan.
Direktur RSUD Bahteramas, dr Hasmudin SpB mengatakan, saat ini memang lagi ada kenaikan trand kasus demam berdarah. Namun sampai, Jumat (12/1) belum ada pasien yang masuk gejala suspek DBD.
“Hari ini tidak ada pasien yang masuk dengan DBD. Jumlah pasien DBD yang masuk dari tanggal 1 sampai 12 Januari sebanyak 49 orang. Tetapi hari ini yang sementara dirawat sebanyak 42 orang. 7 orang sudah pulang atau rawat jalan,” terang Hasmudin, Jumat (12/1).
Dalam kesempatan itu, Hasmudin mengklarifikasi informasi yang beredar mengenai kasus DBD yang dirawat di Bahteramas sampai 450.
“Jadi untuk kasus DBD sebanyak 450 tidak benar. Memang kalau di lihat dalam satu minggu terakhir ini ada penambahan kasus,” ujarnya.
Ia mengaku, dengan lonjakan kasus yang ada, RS Bahteramas terus berusaha maksimal dalam memberikan pelayanan sesuai diagnosis saat pasien masuk UGD. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah ketersediaan ruangan perawatan. Karena selain pasien DBD, RS Bahteramas juga menerima pasien rujukan dengan berbagai penyakit dari Kabupaten/Kota, membuat kapasitas ruangan cepat penuh.
“Karena itu dalam penanganan pasien, kami terkadang melakukan rekayasa ruangan agar pasien tetap mendapatkan pelayanan optimal. Semua pasien di RS ini, kami terima dengan penuh tanggung jawab dan tanpa penolakan,” tegasnya.
Menyikapi situasi makin banyaknya kasus DBD, dr. Hasmudin mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati, terutama saat musim penghujan. Genangan air dapat menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, penyebar DBD. Ia menyarankan agar masyarakat menjaga kebersihan rumah, menghindari genangan air, dan menerapkan prinsip 3M (menguras, menutup dan mengubur).
“Untuk masyarakat kita imbau agar membiasakan perilaku hidup sehat dengan lingkungan yang bersih dan upayakan selalu menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan secara bersama dan meletakkan pakaian yang telah digunakan dalam wadah yang tertutup,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan lebih lanjut, dr. Hasmudin memberikan imbauan kepada masyarakat untuk melapor ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat agar dilakukan foging bila ada kasus DBD dilingkungannya. Foging, sesuai teori, harus dilakukan di radius 100 meter dari rumah pasien positif DBD untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti.
“Dengan peningkatan kasus DBD, masyarakat diharapkan dapat bersinergi dalam upaya pencegahan dan penanganan penyakit ini,” pungkasnya. (FA)












