MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Seratus hari sudah duet kepemimpinan Mayjen TNI (Purn) Andi Sumanggerukka (ASR) dan Hugua memimpin Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dalam waktu yang tergolong singkat itu, keduanya dinilai sukses menghadirkan angin segar perubahan dan menjadi simbol kebangkitan baru untuk Sultra Emas. Hal ini disampaikan langsung Ketua Konsorsium Pemuda Juang Nusantara Sulawesi Tenggara (KPJN-Sultra) La ode Abdul Harits Nugraha, Selasa (10/6).
Menurut La ode Abdul Harits Nugraha, dengan visi tegas dan langkah-langkah progresif, ASR-Hugua membuktikan bahwa pemerintahan yang kuat dan berpihak pada rakyat bukanlah sekadar janji. Berbagai program nyata dan terobosan strategis telah diluncurkan mulai dari revitalisasi sektor pelayanan publik, perbaikan infrastruktur dasar, penguatan sektor pertanian dan perikanan, hingga reformasi birokrasi berbasis integritas dan transparansi.
“Gubernur Andi Sumanggerukka, yang dikenal sebagai mantan Jendral TNI, menujukan jiwa patriot dalam gaya kepemimpinannya yang berani berpihak pada kepetingan rakyat. Sebagai gubernur Sultra Andi Sumangeruka tidak segan-segan menerobos zona nyaman kekuasaan yang selama ini menghambat kemajuan daerah,” katanya.
Dikatakan, Gubernur Andi Sumangerukka berani melawan dominasi para pelaku usaha yang selalu berlindung di balik backup para mafia dan oknum penguasa yang selama ini abai terhadap tanggung jawab sosial dan pembangunan berkelanjutan yang ada di sulawesi tenggara.
“Keberanian ASR sebagai Gubernur Sultra dalam menyuarakan aspirasi dan kepentingan masyarakat Sultra di hadapan komisi 2 DPR RI menujukan sikap kepemimpinan yang kuat dan bebas dari kepetingan oligarki, Sebab daerah yang kaya akan sumber daya alam masih menyimpan duka kemiskinan yang terus menerus di rasakan oleh masyarakat Sultra,” ujarnya.
Selain itu ketegasan menutup jalur Hauling perusahaan tambang PT.MCM dan PT. Ifesdecho juga perlu kita apresiasi, Sebab aktivitas ini sejak lama mendapat kritikan dari masyarakat, karena dinilai banyak memberikan dampat negatif dan merusak fasilitas umum yang digunakan oleh masyarakat.
“Ini menunjukan sikap pemimpin yang berjiwa patriot yang berpihak pada kepentingan masyarakat,” ujar pria dengan sapaan Dimas ini.
“Kami melihat, Apa yang dilakukan oleh ASR
bukan hanya ingin membangun, tetapi juga ingin mengubah pola pikir lama yang membuat Sultra tertinggal. Kami percaya apa yang di lakukan bukan tentang kekuasaan semata, tetapi tentang amanah dan masa depan masyarakat Sultra, sebab ASR sebagai pemimpin sudah selesai dengan dirinya sendiri,” tegas Eks Ketua BEM FISIP UHO ini.
Terbukti, selama 100 hari terakhir banyak terobosan yang sudah di lakukan, terutama dalam membangun karakter dan wibawa pemerintahan yang kuat dan ber integritas. Turun langsung ke desa-desa, mendengar keluh kesah warga, menyentuh akar permasalahan, dan menggerakkan roda pemerintahan agar lebih responsif.
Berkaitan dengan program, Abdul Harits melihat ada beberapa program yang sudah efektif berjalan di antaranya :
1.Reformasi Birokrasi Dan Pelayanan Publik. Digitalisasi layanan publik di tingkat provinsi untuk mempercepat perizinan, bantuan sosial, dan layanan administrasi.
2. Program Sultra Mandiri Pangan.
Pemberdayaan petani dan nelayan melalui subsidi benih, alat pertanian modern, dan akses pupuk murah serta Revitalisasi irigasi, embung di wilayah daratan dan kepulauan Sultra untuk mendukung ketahanan pangan.
3.Program Kesehatan Gratis dan Responsif.
Penguatan layanan kesehatan primer melalui peningkatan fasilitas Puskesmas dan penyediaan tenaga medis di daerah terpencil.
Pendidikan dan Beasiswa Sultra Cerdas
4. Pemberian beasiswa bagi siswa dan mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, hingga ke luar negeri serta Peningkatan kualitas guru dan tenaga pendidik melalui pelatihan berbasis teknologi dan kurikulum adaptif.
“Apa yang dilakukan ASR-Hugua hari ini bukan sekadar program kerja, tapi juga meletakkan fondasi yang kokoh bagi Sultra Emas dimasa depan,” ungkapnya.
Alumni Magister Universitas Nasional (UNAS) ini berharap keberanian ini terus dipertahankan. Sebab kata dia, rakyat butuh pemimpin yang tidak takut berhadapan dengan kepentingan-kepentingan besar yang merugikan.
“Dengan landasan ketegasan, keberanian, dan jiwa patriotisme, pasangan ASR-Hugua membuktikan bahwa transformasi bukan sekadar retorika, tapi nyata di lapangan. Seratus hari pertama ini menjadi titik awal menuju lompatan besar Sultra menuju masa depan yang lebih cerah,” paparnya.
KPJN-Sultra sebagai representasi anak muda dan aktivis pembangunan daerah, mengapresiasi penuh langkah ASR-Hugua. Mereka menilai, dalam waktu 100 hari ini, sudah terlihat dengan jelas arah pembangunan Sultra yang progresif dan inklusif.
“Sultra emas bukan lagi mimpi dengan kepemimpinan ASR-Hugua, harapan itu semakin nyata,” tutupnya. (**)












