MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Dalam rangka mendorong penguatan hasil produksi pada areal pertanaman komoditas padi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra melakukan kegiatan sosialisasi percontohan penerapan teknologi pertanian melalui sekolah lapang tematik Gerakan Pertaniani Pro Organik (Genta Organik) bertempat di kelurahan Ngkari-ngkari, Kecamatan Bungi Kota Baubau, Jumat (28/6).
Kepala Distanak Sultra La Ode Muhammad Rusdin Jaya mengatakan, program tersebut menjadi salah satu upaya Pemprov Sultra dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan, yang pada akhirnya mendukung terwujudnya swasembada pangan di Sultra.
“Kegiatan sosialisasi percontohan penerapan teknologi pertanian melalui sekolah lapang tematik gerakan pertaniani pro organik (Genta Organik) menjadi salah satu upaya kementerian pertanian dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumberdaya alam, yang pada akhirnya mendukung terwujudnya swasembada pangan dan kedaulatan pangan nasional,” kata Rusdin.
“Kegiatan tersebut diikuti oleh, 40 orang petani, Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) 10 orang, tokoh msyarakat dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Baubau,” sambungnya.
Dikesempatan itu, Rusdin menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada dinas pertanian dan ketahanan pangan Kota Baubau dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bungi yang telah melaksanakan berbagai persiapan untuk mneyukseskan kegiatan tersebut.
“BPP Bungi merupakan satu-satunya BPP yang melaksanakan sekolah lapang di provinsi sulawesi tenggara pada tahun 2024 yang difasilitasi satker APBN dinas tanaman pangan dan peternakan provinsi sulawesi tenggara, yang melibatkan kelompok tani yang telah memenuhi syarat.
“Kedepannya kami mengharapkan dengan adanya kegiatan ini lebih mengoptimalkan lagi peran BPP dalam memberi pendampingan kepada kelompok tani. Demikian juga kelompok tani dapat menerapkan teknologi genta organik di lahan usaha taninya serta menyebarkan ke anggota kelompok tani lainnya,” tambahnya.
Rusdin menuturkan, genta organik memerlukan pemahaman yang mendalam agar petani mampu memproduksi pupuk organik, pupuk hayati, pembenah tanah secara mandiri, masif dan berkelanjutan.
Kata dia, gerakan tersebut tidak berarti petani tidak boleh menggunakan pupuk an organik (pupuk kimia), namun dalam pengelolaan usahataninya petani masih bisa menggunakan pupuk an organik (pupuk kimia) sesuai ketentuan dengan menerapkan konsep pemupukan berimbang.
“Berbagai persoalan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian di sulawesi tenggara seperti fenomena iklim yang tidak menentu, keterbatasan benih bermutu bersertifikat, ketersediaan dan harga pupuk anorganik yang semakin mahal, serta masalah organisme pengganggu tanaman, menjadikan sekolah lapang (SL) Genta Organik menjadi sangat penting untuk dilaksanakan,” ucapnya.
Rusdin menambahkan, genta organik diharapkan dapat menjadi suatu gerakan penggunaan bahan-bahan organik dalam berusaha tani, yang dilakukan secara bersama sama guna meningkatkan produksi dan kesejahteraan masyarakat/petani.
“Sekolah lapang merupakan bentuk sekolah yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilakukan di lapangan, yakni dilaksanakan di lahan petani peserta SL dalam upaya peningkatan produksi padi. Proses pembelajaran sekolah lapang didasarkan pada pendidikan orang dewasa yang dikemas dalam metode pembelajaran yang praktis, sistematis dan menarik,” tuturnya. (**)












