Daerah  

Festival Kande Kandea Tolandona Merupakan Tradisi yang Terus Dilestarikan Masyarakat Buteng

Kepala Dispar Sultra Belli Tombili mewakili Gubernur Sultra Ali Mazi saat menghadiri festival kande kandea tolandona.
Kepala Dispar Sultra Belli Tombili mewakili Gubernur Sultra Ali Mazi saat menghadiri festival kande kandea tolandona.

MEDIATAMASULTRA.COM – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) yang di wakili Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Sultra Belli Tombili turut menghadiri puncak festival Kande-kandea Tolandona, Kecamatan Sangia Wambulu, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sabtu (29/4). Dimana festival kande-kandea merupakan tradisi yang terus dilestarikan masyarakat Buteng dan terpelihara dengan baik sampai sekarang.

Kepala Dispar Sultra Belli Tombili, mengucapkan terima kasih serta apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno yang telah memberi kepercayaan kepada Sultra, khususnya kabupaten Buton Tengah, untuk menyelenggarakan salah satu event nasional, yaitu festival kande-kandea tolandona.

“Sebagai wujud komitmen bersama dalam menjadikan kebudayaan dan tradisi leluhur sebagai bagian dari program pengembangan kepariwisataan nasional. Perlu saya sampaikan, bahwa pelaksanaan festival kande-kandea yang dilaksanakan di tolandona, kecamatan sangia wambulu merupakan tradisi yang terus dilestarikan masyarakat dan terpelihara dengan baik sampai sekarang,” katanya dalam membacakan sambutan Gubernur Sultra Ali Mazi.

Dikatakan, dalam sejarahnya tradisi kande-kandea merupakan pesta rakyat tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat tolandona untuk menyambut dan merayakan kemenangan para ksatria yang bertugas menjaga keutuhan wilayah Kesultanan Buton. Tradisi ini diperkenalkan pada tahun 1597 di masa kepemimpinan Sultan Buton ke-IV Dayanu Ihksanuddin dan imam masjid agung keraton sangia yi wambulu.

“Pesta rakyat kande-kandea dikemas sesuai dengan nilai ajaran islam yang dilaksanakan sekitar seminggu setelah idul fitri sebagai ajang silatuhrahmi atau halal bihalal antara para perangkat kerajaan, perangkat masjid, dan masyarakat,” jelasnnya.

Belli menuturkan, seiring waktu festival kande-kandea kemudian menjadi even tahunan perayaan para perantau masyarakat buton tengah yang pulang kampung kedaerahnya sebagai ajang silaturahmi dan pencarian jodoh. Festival ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT melalui penyajian aneka macam makanan tradisional khas buton tengah.

“Pelaksanaan festival kande-kandea yang masuk dalam kalender event nasional merupakan prestasi tersendiri bagi sulawesi tenggara, khususnya kabupaten buton tengah. Meskipun demikian, kita tidak boleh berpuas diri dengan pencapaian saat ini,” ungkapnya.

Dia bilang, masih banyak tradisi dan produk-produk kebudayaan di Sultra untuk dieksplorasi dan menjadi bagian dari kampanye kepariwisataan baik di tingkat daerah maupun nasional dan internasional. Tentunya, ini merupakan pekerjaan rumah bersama, bagaimana agar pembangunan sektor kepariwisataan tidak hanya soal keindahan alam semata, namun juga pada daya tarik budaya dan masyarakat yang ada di sekitarnya.

“Festival kande-kandea tolandona selain sebagai upaya untuk terus menjaga kelestarian budaya, juga menjadi ajang kontemplasi bahwa betapa para leluhur telah mewariskan nilai-nilai sosial yang begitu berharga untuk kita teladani demi peningkatan kualitas harkat kemanusiaan kita,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!