Oleh : Bintang, Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Haluoleo
KENDARI – Libur kuliah biasanya identik dengan rebahan atau sekadar jalan-jalan. Namun, bagi kami para alumni SMAN 1 Langkumapo, liburan kali ini terasa lebih berbeda karena kami memilih untuk “pulang” dengan misi khusus: menghidupkan kembali semangat membaca adik-adik SMAN 1 Langkumapo melalui lapak baca sederhana.
Sebagai mahasiswa yang baru menapaki tahun pertama di kampus, kami sadar betul bahwa tantangan terbesar di dunia kampus bukan hanya soal tugas, tapi soal kemampuan mengolah informasi. Kami tidak ingin adik-adik di sekolah SMAN 1 Langkumapo tertinggal hanya karena kurangnya akses atau minat terhadap buku.
Program “Alumni Kembali ke Sekolah” ini kami kemas dalam bentuk lapak baca di pojok sekolah. Tidak ada kesan kaku seperti di perpustakaan; kami hanya menggelar tikar, menyediakan koleksi buku yang beragam, dan mengajak mereka berdiskusi santai layaknya kakak dan adik.
Mengapa harus literasi? Berdasarkan pengamatan kami selama beberapa hari di sana, arus informasi dari media sosial jauh lebih kuat menyedot perhatian siswa dibandingkan buku teks. Literasi bukan hanya soal membaca, tapi soal bagaimana mereka bisa menyaring informasi dengan sehat.
Kami melihat ada gairah yang terpendam di mata mereka. Saat lapak dibuka, awalnya mereka malu-malu, namun lama-kelamaan mereka mulai berebut buku-buku populer, novel, hingga buku pengembangan diri yang kami bawa dari kota tempat kami merantau.
Kegiatan ini juga menjadi ajang “transfer energi”. Kami berbagi cerita tentang dunia perkuliahan, sementara mereka bercerita tentang cita-citanya. Di sinilah buku menjadi jembatan komunikasi yang sangat efektif untuk bagaimana bisa memotivasi mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Kami percaya bahwa peran alumni tidak boleh berhenti setelah menerima ijazah. Ikatan alumni seharusnya menjadi support system yang nyata bagi sekolah, terutama dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kebiasaan membaca.
Pihak sekolah pun sangat menyambut baik inisiatif ini. Menurut para guru, kehadiran alumni membawa angin segar karena siswa cenderung lebih mendengarkan nasihat dari kakak tingkatnya yang dianggap sudah lebih dulu mencicipi “dunia luar”.
Tantangan utama yang kami temui adalah keterbatasan jumlah buku yang relevan dengan minat remaja masa kini. Itulah mengapa kami menggalang donasi buku dari sesama teman teman kami di kampus dari berbagai daerah untuk terus memperbarui koleksi lapak baca ini.
Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa semester dua pun sudah bisa memberikan dampak. Tidak perlu menunggu lulus atau menjadi sukses besar untuk mulai berkontribusi; cukup dengan berbagi waktu dan ilmu yang sedikit ini, kita sudah bisa membantu sekolah.
Lapak baca ini bukan sekadar program musiman selama liburan. Kami berkomitmen untuk menjadikannya agenda rutin setiap kali masa libur kampus tiba, agar budaya literasi di SMAN 1 Langkumapo tidak padam begitu saja.
Harapannya, melalui gerakan kecil ini, adik-adik kita tidak lagi memandang buku sebagai beban, melainkan sebagai kawan petualangan. Literasi adalah kunci untuk membuka pintu dunia, dan kami ingin mereka memegang kunci itu sedini mungkin.
Ke depannya, kami berencana mengembangkan lapak baca ini menjadi komunitas diskusi film atau bedah buku yang lebih intens. Kami ingin suasana belajar di SMAN 1 Langkumapo menjadi lebih hidup, kreatif, dan tentu saja literat.
Menutup opini ini, saya mengajak seluruh rekan-rekan mahasiswa di mana pun kalian berada: jangan lupa jalan pulang. Sekolah kita adalah akar tempat kita tumbuh, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberi nutrisi kembali pada akar tersebut melalui aksi nyata.












