Daerah

Kemenag Kendari Siapkan Generasi Qurani, Pencegahan Bullying Jadi Prioritas di Madrasah

×

Kemenag Kendari Siapkan Generasi Qurani, Pencegahan Bullying Jadi Prioritas di Madrasah

Sebarkan artikel ini
Hj. Marni. (FOTO: Mediatamasultra.com)
Hj. Marni. (FOTO: Mediatamasultra.com)

MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Kendari terus memperkuat upaya pencegahan bullying atau perundungan di lingkungan madrasah sebagai bagian dari komitmen mencetak generasi Qurani yang berkarakter, berakhlak mulia, serta tumbuh dalam lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Kepala Kantor Kemenag Kota Kendari, Hj. Marni, mengatakan pencegahan perundungan telah menjadi salah satu materi utama dalam program MATAMUDA (Masa Ta’aruf Murid Madrasah) yang dilaksanakan setiap awal tahun ajaran di seluruh jenjang madrasah, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

Menurutnya, melalui program tersebut peserta didik diberikan edukasi mengenai bahaya kekerasan dan bullying dengan melibatkan berbagai instansi terkait sebagai narasumber.

“Dalam kegiatan MATAMUDA, anak-anak diberikan pemahaman tentang bahaya kekerasan dan bullying. Kami melibatkan berbagai stakeholder seperti BNN, kejaksaan, kepolisian, dan instansi lainnya sesuai tugas dan fungsinya masing-masing untuk memberikan sosialisasi kepada peserta didik,” ujar Marni saat di wawancarai di ruang kerjanya, Selasa (28/7/2026).

Selain edukasi, Kemenag Kota Kendari juga telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di seluruh madrasah sejak tahun 2022. Satgas tersebut juga memiliki tugas mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Marni menjelaskan, satgas terdiri dari kepala madrasah, guru, guru Bimbingan Konseling (BK), perwakilan orang tua, hingga peserta didik. Keberadaan satgas diharapkan menjadi wadah bagi siswa untuk melaporkan setiap tindakan intimidasi maupun perundungan yang dialami.

“Anak-anak wajib melapor apabila merasa tidak nyaman atau menjadi korban bullying. Setelah dilaporkan, kasusnya akan dipilah sesuai penanganannya. Jika diperlukan pendampingan psikologis, maka psikolog akan dilibatkan agar trauma yang dialami anak dapat ditangani dengan baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, Kemenag Kota Kendari juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosialisasi perlindungan perempuan dan anak bersama pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum. Edukasi tersebut tidak hanya menyasar madrasah, tetapi juga masyarakat secara umum.

“Kami ingin seluruh anak di Kota Kendari, baik yang belajar di sekolah umum maupun madrasah, merasa aman, nyaman, dan senang saat mengikuti proses pembelajaran. Tidak boleh ada lagi intimidasi ataupun kekerasan di lingkungan pendidikan,” tegasnya.

Menurut Marni, konsep madrasah ramah anak harus diwujudkan melalui keteladanan seluruh tenaga pendidik sehingga peserta didik merasa terlindungi dan nyaman selama berada di lingkungan sekolah.

“Anak-anak harus merasa bahwa madrasah adalah tempat yang aman untuk belajar, membangun karakter, dan menanamkan nilai-nilai agama. Kami ingin mereka pulang dengan karakter yang lebih baik, santun, dan memiliki nilai spiritual yang kuat,” katanya.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, Kemenag Kota Kendari juga menerapkan pembatasan penggunaan telepon genggam selama proses pembelajaran. Di sejumlah madrasah, seperti MTsN 1 Kendari, siswa diwajibkan menyimpan telepon seluler di tempat khusus sebelum memasuki kelas. Sebagai gantinya, pembelajaran tetap memanfaatkan perangkat digital seperti tablet atau iPad yang telah disiapkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

“Penggunaan gawai harus diawasi karena media digital juga dapat menjadi sumber munculnya perilaku kekerasan jika tidak disikapi dengan bijak. Karena itu, selama pembelajaran HP disimpan dan baru digunakan kembali setelah jam sekolah selesai,” ujarnya.

Selain pembinaan di madrasah, Kemenag Kota Kendari juga terus memperkuat pengawasan dan edukasi di 22 pondok pesantren yang ada di Kota Kendari melalui sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

Marni mengakui berbagai kasus perundungan maupun kekerasan yang terjadi di sejumlah lembaga pendidikan menjadi perhatian serius Kementerian Agama. Karena itu, inovasi dan penguatan sistem pembinaan terus dilakukan agar kepercayaan masyarakat terhadap madrasah dan pondok pesantren tetap terjaga.

“Ketika masyarakat semakin percaya dan berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di madrasah maupun pondok pesantren, kami tidak boleh lengah. Inovasi harus terus dilakukan, baik melalui kelas tahfiz, kelas digital, maupun peningkatan kualitas pembinaan karakter peserta didik,” ungkapnya.

Ia berharap seluruh program yang dijalankan mampu mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045, yakni generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap berlandaskan nilai-nilai agama dan akhlak mulia.

“Generasi yang kita siapkan adalah generasi hebat dan generasi Qurani. Di mana pun mereka berada, nilai-nilai agama dan spiritual harus tetap menjadi pedoman dalam kehidupan mereka,” tutupnya. (sal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!