BerandaDaerah

Perkuat Swasembada Pangan, Sultra Target 1 Juta Ton Gabah Kering Giling

×

Perkuat Swasembada Pangan, Sultra Target 1 Juta Ton Gabah Kering Giling

Sebarkan artikel ini
Prof. Muhammad Taufik. (FOTO: FAYSAL/MS)
Prof. Muhammad Taufik. (FOTO: FAYSAL/MS)

MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) pada tahun 2026 mencapai 1 juta ton. Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan swasembada pangan di daerah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Sultra, Prof. Muhammad Taufik, mengatakan capaian tersebut membutuhkan kerja ekstra dari seluruh pemangku kepentingan, terutama dinas pertanian di tingkat kabupaten/kota, khususnya daerah sentra produksi pangan.

“Untuk target produksi gabah kering giling tahun 2026, kami menargetkan bisa mencapai 1 juta ton. Ini tentu perlu kerja ekstra semua stakeholder, khususnya dinas pertanian di kabupaten, terutama sentra produksi seperti Kolaka, Kolaka Timur, Konawe, Konawe Selatan, dan Bombana,” ujarnya saat di wawancarai di ruang kerjanya, Senin (9/2/2026).

Menurutnya, strategi utama yang akan ditempuh adalah meningkatkan indeks penanaman (IP). Saat ini rata-rata indeks penanaman sawah di Sultra masih berada di angka 1,8, yang berarti masih ada lahan sawah yang hanya ditanami satu kali dalam setahun.

“Kalau indeks penanaman bisa kita tingkatkan menjadi dua kali tanam dalam setahun, produksi padi akan sangat terbantu meningkat,” jelasnya.

Ia memberi ilustrasi, jika luas baku sawah Sultra mencapai 100 ribu hektare dengan indeks penanaman dua kali setahun, maka luas panen menjadi 200 ribu hektare. Dengan produktivitas rata-rata 5 ton per hektare, produksi padi bisa mencapai 1 juta ton.

“Lahan baku sawah 100 ribu hektare, dua kali tanam berarti luas panen 200 ribu hektare. Kalau produktivitas 5 ton per hektare, maka kita bisa capai 1 juta ton produksi padi,” terangnya.

Selain peningkatan indeks penanaman, sejumlah faktor pendukung juga disiapkan, di antaranya ketersediaan pupuk yang kini dinilai semakin baik tata kelolanya, stok pestisida yang mencukupi, serta penggunaan benih unggul bersertifikat. Salah satu varietas yang akan didorong adalah benih Sanggoleo Sultra yang telah dipanen dan akan didistribusikan ke petani.

Dukungan irigasi juga dilakukan melalui kolaborasi multi-stakeholder, melibatkan Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas Pekerjaan Umum (PU), dan Sumber Daya Air (SDA). Upaya lain yang ditempuh yakni optimalisasi lahan terlantar untuk kembali diolah, bukan semata mencetak sawah baru. Namun demikian, program perluasan sawah juga tetap berjalan dengan target 14.050 hektare pada tahun ini yang tersebar di 17 kabupaten/kota.

Pemprov juga mendorong pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan). Melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Sultra, petani dapat mengakses pembiayaan alsintan dengan harga yang lebih terjangkau.

Di sisi hilir, Pemprov Sultra mulai mengarahkan penguatan hilirisasi agar daerah tidak hanya memproduksi padi, tetapi juga beras premium yang diolah di Sulawesi Tenggara.

“Kita berharap Sultra tidak hanya memproduksi padi, tapi juga beras. Artinya, padi kita diolah menjadi beras premium di Sultra sendiri secara bertahap,” pungkasnya. (sal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!