Daerah

UPTD PSBK Dikbud Sultra Gelar Terapi Kelompok untuk Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus

×

UPTD PSBK Dikbud Sultra Gelar Terapi Kelompok untuk Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus

Sebarkan artikel ini
UPTD PSBK Dikbud Sultra saat menggelar Terapi Kelompok untuk Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus bertempat Hotel Plaza Inn Kendari selama dua hari, 4-5 Mei 2026.
UPTD PSBK Dikbud Sultra saat menggelar Terapi Kelompok untuk Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus bertempat Hotel Plaza Inn Kendari selama dua hari, 4-5 Mei 2026.

MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus (PSBK) menggelar terapi kelompok bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Plaza Inn Kendari selama dua hari, 4-5 Mei 2026.

Terapi kelompok tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Eva Meizara Puspita Dewi, S.Psi., M.Si., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar, serta Dr. Eka Damayanti, S.Psi., M.A., dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Alauddin Makassar.

Kepala UPTD PSBK Dikbud Sultra, Nurhaerani Haeba, S.Pi., M.Si., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan kepada orang tua, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan memperkuat empati antar sesama orang tua.

“Ini bukan sekadar mendapatkan ilmu terkait anak berkebutuhan khusus, tetapi juga menjadi wadah untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta membangun empati dan kebersamaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini diikuti sekitar 70 peserta dan dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan pada 4-5 Mei 2026, sementara gelombang kedua dijadwalkan pada 3-4 Juni 2026.

Sementara itu, Dr. Eka Damayanti menjelaskan bahwa materi yang diberikan berfokus pada perubahan pola pikir orang tua dalam memandang diri sendiri dan anak.

Menurutnya, banyak orang tua yang memiliki persepsi keliru, seperti merasa tidak boleh lelah atau marah. Padahal, orang tua tetap manusia yang membutuhkan bantuan, termasuk dari tenaga profesional seperti psikolog.

“Orang tua harus sadar bahwa mereka juga bisa lelah dan membutuhkan bantuan. Ketika mereka mampu mengelola emosinya, maka mereka juga bisa memperlakukan anak dengan lebih tepat,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus dengan tidak hanya melihat keterbatasan, tetapi juga potensi yang dimiliki.

“Di balik setiap kelemahan anak, pasti ada kelebihan yang bisa dikembangkan. Perspektif ini yang perlu dibangun,” tambahnya.

Selain itu, konsep reframing juga menjadi bagian penting dalam pelatihan, yakni mengubah cara pandang negatif menjadi lebih positif agar orang tua tidak mudah stres dalam menghadapi perkembangan anak yang berbeda.

Di tempat yang sama, Dr. Eva Meizara Puspita Dewi menyampaikan bahwa terapi ini berfokus pada pengelolaan emosi orang tua melalui pendekatan konseling kelompok.

“Kami membantu orang tua mengelola emosi, seperti rasa lelah, terpinggirkan, atau tertinggal, yang selama ini mungkin terpendam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, metode yang digunakan dalam terapi ini adalah photovoice dan elicitation, yakni teknik yang memanfaatkan gambar sebagai media untuk mengungkap perasaan terdalam peserta.

“Melalui metode ini, peserta dapat mengekspresikan hal-hal yang selama ini sulit diungkapkan. Ini menjadi media pelepasan emosi sekaligus relaksasi,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan yang berfokus pada orang tua ini masih jarang dilakukan, padahal peran orang tua sangat penting karena mereka berinteraksi langsung dengan anak selama 24 jam.

“Biasanya yang disentuh adalah anak atau guru. Padahal yang paling utama adalah orang tua. Jika orang tua mampu mengelola emosinya, maka dampaknya akan sangat besar bagi perkembangan anak,” tutupnya. (sal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!