MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi kabut asap kategori sedang hingga tinggi yang diprakirakan melanda sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 15-17 Oktober 2026.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, Heri Purnomo, melalui siaran pers pemutakhiran informasi sebaran asap di wilayah Sultra Nomor: e.B/ME.02.04/221/KKNI/X/2026.
“Berdasarkan hasil observasi dan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada 14 Oktober 2026, BMKG masih mendeteksi keberadaan kabut asap di wilayah Sultra dan sekitarnya. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan jarak pandang mendatar hingga kurang dari tiga kilometer,” ujarnya dalam siaran persnya, Rabu (14/10/2026).
Sebaran asap yang terjadi sejak 26 September 2026 menunjukkan tingkat kepekatan yang berbeda-beda di setiap wilayah. Namun, kondisi terparah tercatat pada 12-14 Oktober 2026, ketika kabut asap semakin pekat di berbagai daerah di Sultra.
Di sejumlah lokasi, seperti Pomalaa dan Baubau, jarak pandang bahkan dilaporkan kurang dari dua kilometer. Kondisi ini turut mengganggu aktivitas penerbangan di beberapa bandara di Sultra.
BMKG menjelaskan, pola angin yang masih bertiup dari arah timur hingga tenggara menyebabkan asap dari wilayah Papua Selatan, Maluku, dan sekitarnya terbawa hingga ke Sulawesi Tenggara.
Kepekatan asap berpotensi meningkat karena di sejumlah wilayah Sultra juga terjadi kebakaran hutan. Perpaduan asap kiriman dari luar daerah dan kebakaran lokal dapat memperburuk kualitas udara serta memperpendek jarak pandang.
Indeks kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Sultra umumnya berada pada kategori sedang hingga tidak sehat, dengan konsentrasi masing-masing 15,5-55,4 mikrogram per meter kubik dan 55,5-150,4 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut diprakirakan masih berulang dalam beberapa hari ke depan.
1.644 Titik Panas Terdeteksi dalam Enam Hari
Selain memantau sebaran asap, BMKG juga mencatat tingginya jumlah titik panas di Sultra.
Berdasarkan pemantauan satelit dengan sensor VIIRS dan MODIS pada 7-12 Oktober 2026, terdeteksi sebanyak 1.644 titik panas atau rata-rata sekitar 274 titik per hari.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.356 titik atau sekitar 82 persen memiliki tingkat kepercayaan sedang, sedangkan 105 titik atau enam persen memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Kabupaten Konawe menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 379 titik. Berikutnya Kabupaten Buton dengan 267 titik dan Kabupaten Bombana sebanyak 202 titik.
Sementara itu, berdasarkan kecamatan, titik panas terbanyak terdeteksi di Routa sebanyak 209 titik, Kapontori 165 titik, dan Morosi 98 titik.
BMKG menegaskan, titik panas merupakan anomali suhu yang terdeteksi oleh satelit dan tidak serta-merta menjadi konfirmasi bahwa kebakaran benar-benar terjadi di lokasi tersebut.
Sebaran Kabut Asap 15-17 Oktober
BMKG Sultra memprakirakan kabut asap kategori sedang hingga tinggi berpotensi terjadi di sejumlah wilayah dengan rincian sebagai berikut:
Kamis, 15 Oktober 2026
- Kabupaten Konawe Utara
- Kabupaten Konawe
- Kabupaten Kolaka Utara
- Kabupaten Kolaka
- Kabupaten Kolaka Timur
Jumat, 16 Oktober 2026
- Kabupaten Buton Utara
- Kabupaten Konawe Selatan
- Kabupaten Konawe Kepulauan
- Kabupaten Muna
- Kota Kendari
Sabtu, 17 Oktober 2026
Kabut asap berpotensi terjadi di seluruh wilayah Sultra, kecuali Kota Baubau dan Kabupaten Buton Selatan.
Khusus prakiraan partikulat PM2.5 pada 17 Oktober 2026 pukul 20.00-23.59 WIB atau sekitar pukul 21.00-00.59 WITA, Kabupaten Wakatobi diprakirakan berada dalam kategori kualitas udara tidak sehat.
Masyarakat Diminta Waspada
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG Sultra mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah perlindungan untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan.
Masyarakat disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menutup jendela ketika asap terasa pekat.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara memburuk.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan oleh pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan. Jika jarak pandang menurun secara signifikan, pengguna kendaraan dan kapal diimbau menyalakan lampu untuk membantu meningkatkan visibilitas.
BMKG turut mengingatkan masyarakat agar terus memperbarui informasi cuaca dan perkembangan sebaran asap melalui kanal resmi BMKG serta instansi terkait.
Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus meminimalkan risiko terhadap kesehatan, keselamatan transportasi, dan aktivitas masyarakat.
Informasi terkini dapat diakses melalui akun Facebook Info BMKG Sultra, Instagram @bmkgmaritimkendari, situs resmi www.bmkg.go.id, serta aplikasi Info BMKG untuk perangkat iOS dan Android. (red)












