MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Dari sebuah madrasah yang berdiri di kawasan pesisir Kampung Bajo, Kabupaten Kolaka, lahir sebuah kisah inspiratif yang kini bergema hingga tingkat nasional. Sosok itu adalah Dr. Rizki Ayu Amaliah, S.Q., M.Pd., Kepala MTs Mir’atul Mujahid, yang berhasil meraih Juara Satu Kepala Madrasah Inspiratif Tingkat Nasional pada ajang Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2025.
Penghargaan prestisius tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, dengan proses seleksi ketat yang dimulai sejak Hari Guru Nasional, 25 November 2025, dilanjutkan grand final pada 5 Desember 2025, dan puncak penganugerahan pada 25 Desember 2025. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar di Jakarta.
Perempuan kelahiran Sengkang, 3 Mei 1993 ini bukan hanya seorang kepala madrasah, tetapi juga seorang ibu rumah tangga, pendidik, dan penulis produktif. Dari ratusan peserta se-Indonesia, Rizki Ayu berhasil menembus 12 besar, lalu 3 besar nasional bersama perwakilan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, hingga akhirnya dinobatkan sebagai yang terbaik.
“Seleksinya langsung tingkat nasional, dari seluruh kepala madrasah RA, MI, MTs, MA, negeri dan swasta digabung menjadi satu,” tutur Rizki Ayu, bertempat di Kantor Wilayah Kemenag Sultra, Sabtu (3/1/2025).
Ia menyebut, kategori penilaian meliputi Kepala Madrasah Inspiratif, Inovatif, dan Dedikatif, serta Guru dan Tenaga Kependidikan dengan berbagai kategori prestasi.
Membangun Madrasah dari Nol
Prestasi nasional itu tak lepas dari keberhasilannya membangun MTs Mir’atul Mujahid Kampung Bajo, madrasah swasta yang tergolong sangat muda. Madrasah tersebut berdiri pada 2021, memperoleh izin operasional pada 2023, dan berhasil meraih Akreditasi A pada awal 2025—sebuah capaian luar biasa dengan sumber daya yang terbatas.
“Hanya dengan dua orang guru, Alhamdulillah kami bisa langsung mendapatkan akreditasi A. Perkembangannya sangat cepat,” ungkapnya.
Saat ini, MTs Mir’atul Mujahid telah memiliki sekitar 106 peserta didik, menjadi bukti bahwa madrasah di wilayah pelosok pun mampu bersaing secara kualitas.
Akademisi dan Penulis Produktif
Di balik kesibukannya memimpin madrasah, Rizki Ayu dikenal sebagai penulis produktif. Sejak mulai menulis pada 2011, ia telah menghasilkan sekitar 50 buku solo dan lebih dari 100 buku antologi. Karya-karyanya meliputi pemikiran kontemporer muslimah, buku motivasi, buku pelajaran, komik, hingga pitch book.
Sepanjang tahun 2025 saja, ia menerbitkan sedikitnya enam naskah, di antaranya Kumpulan Doa, The Power of Taubat, 40 Terekat Rezeki, serta dua buku yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Sulawesi Tenggara, yakni Imbu dan Lorik. Buku-bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor dan dapat diperoleh di Gramedia serta berbagai platform digital seperti Shopee dan TikTok Shop.
Jejak Pendidikan Panjang
Perjalanan akademik Rizki Ayu juga terbilang lengkap. Ia mengenyam pendidikan dasar di SDN 262 Bulupabbulu Sengkang, lalu melanjutkan MTs dan MA di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Gelar Sarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir diraihnya di UIN Alauddin Makassar, kemudian Magister Pendidikan Agama Islam di IAI Al-Mawaddah Warrahmah Kolaka, hingga akhirnya menyelesaikan Program Doktor Pendidikan dan Keguruan di UIN Alauddin Makassar pada 2025.
“Semoga ini menjadi ukuran dan inspirasi. Dari Sulawesi Tenggara, dari madrasah swasta di pelosok, kita bisa bersaing di tingkat nasional,” ujarnya penuh harap.
Apresiasi Kemenag Sultra
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tenggara, H. Mansur S.Pd., M.A, turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menyebut keberhasilan Dr. Rizki Ayu sebagai bukti bahwa madrasah di Sultra memiliki potensi besar untuk berprestasi di tingkat nasional.
“Beliau dinobatkan sebagai Kepala Madrasah Inspiratif tingkat nasional. Ini kebanggaan bagi Sulawesi Tenggara, dan karya-karyanya juga sudah tersedia di Gramedia,” ujar Mansur.
Kisah Dr. Rizki Ayu Amaliah menjadi bukti bahwa dedikasi, literasi, dan kepemimpinan yang visioner mampu melahirkan perubahan besar—bahkan dari titik yang paling sederhana. Sebuah inspirasi bagi dunia pendidikan, khususnya madrasah di Indonesia. (sal)












