MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan analisis Dampak Perubahan Iklim (DPI) banjir dan kekeringan terhadap lahan pertanian potensial di Sultra tahun 2024.
Kepala Distanak Sultra La Ode Muh Rusdin Jaya mengatakan, taksiran total kehilangan hasil akibat bencana alam banjir pada tanaman padi bulan Mei 2024 mencapai 10.541,12 ton Gabah Kering Giling (GKP) atau jika diestimasi dalam bentuk rupiah kehilangan hasil mencapai Rp177,09 Miliar.
“Pertanaman jagung yang mengalami kerusakan akibat banjir pada tahun 2024 1-15 Mei seluas 134 hektaree (ha) sementara puso seluas 46 ha. Kejadian banjir terjadi di Kabupaten Konawe seluas 64 ha (puso seluas 39 ha) dan Kabupaten Konawe Selatan seluas 70 ha (puso seluas 7 ha),” kata Rusdin, Jumat (7/6).
Dikatakan, sementara taksiran kehilangan hasil akibat banjir pada tanaman jagung mencapai 452 ton. Pertanaman kedelai yang mengalami kerusakan akibat banjir pada tahun 2024 1-15 Mei seluas 100 ha (puso seluas 90 ha).
“Kejadian banjir terjadi di Kabupaten Konawe seluas 80 ha (puso seluas 80 ha) dan Kabupaten Konawe Selatan seluas 20 ha (puso seluas 10 ha). Taksiran kehilangan hasil akibat banjir pada tanaman jagung mencapai 266 ton,” terang Rusdin.
Rusdin menuturkan, untuk mengantisipasi bencana alam untuk mengurangi atau meminimalkan dampak bencana alam seperti kejadian banjir dan kekeringan serta bencana alam lainnya terhadap tanaman pangan, maka perlu dilakukan beberapa langkah antisipasi.
“Antara lain daerah banjir yakni pengaturan waktu tanam dengan metode pembuatan pola tanam yang lokal spesifik yang dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga pada waktu diramalkan terjadi banjir, tanaman sudah panen atau berada pada kondisi relatif tahan terhadap kelebihan air,” jelasnya.
Selanjutnya pemilihan varietas yang relatif tahan terhadap kelebihan air, penyediaan dan perawatan embung/sumur-sumur atau dibuat pengairan sebagai penampung air pada saat curah hujan tinggi sehingga dapat menjadi cadangan air.
“Melakukan pemeliharaan dan perbaikan sarana pengairan seperti sanitasi saluran air/tanggul sehingga dampak negatifnya tidak menimbulkan kerugian. Membimbing petani untuk tidak memaksakan diri menanam tanaman yang tidak tahan terhadap cekaman kelebihan air dilahan yang rawan banjir/ petani mau melakukan pola dan strategi tanam yang sesuai dengan kondisi air berlebih,” ucapnya.
Mantan Karo Administrasi Pembangunan Sultra menyampaikan untuk daerah Kekeringan yakni terhadap daerah yang terlanjur tanam diupayakan kemudahan mendapatkan sarana penanggulangan kekeringan antara lain dengan pompanisasi (bila sumber air tersedia) dipinggir areal pertanaman.
Kemudian pengaturan waktu tanam dengan metode pembuatan pola tanam yang bersifat lokal spesifik yang dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga pada waktu diramalkan terjadi kekeringan, tanaman sudah panen atau berada pada kondisi relatif tahan terhadap cekaman kekurangan air.
“Pemilihan varietas yang relatif tahan terhadap cekaman kekurangan air, penyediaan dan perawatan embung/sumur-sumur atau dibuat pengairan yang hemat seperti pengaturan pengairan yang ada. Penggantian tanaman padi dengan tanaman yang tidak banyak membutuhkan air seperti jagung, kacang hijau dan lain-lain,” ucapnya.
Langkah berikutnya, membimbing petani untuk tidak memaksakan diri menanam tanaman yang tidak tahan terhadap cekaman kekurangan air di lahan yang rawan kekeringan/petani mau melakukan pola dan strategi tanam yang sesuai dengan kondisi kering. Meningkatkan pengamatan dan kewaspadaan terhadap OPT yang meningkat serangannya pada musim kering. Seperti kutu-kutuan dan thrips pada tanaman palawija dan lain-lain.
“Gerakan penanganan DPI, dan khusus untuk daerah-daerah rawan kekeringan. Plot antisipasi kekeringan yang direncanakan dan dilaksanakan di wilayah pengamatan provinsi maupun kabupaten/kota, yang berarti petani sebagai bagian pengguna ikut memutuskan penetapan pemilihan varietas/jenis komoditi dan saat tanam dari tanaman yang dibudidayakan petani bersamaan dengan pembuat kebijakan, sehingga kerugian yang terjadi dari kejadian bencana alam dapat dikurangi, dihindari dan atau diminimalkan.Waktu diramalkan terjadi kekeringan, tanaman sudah panen atau berada pada kondisi relatif tahan terhadap cekaman kekurangan air,” tutupnya. (**)












