;

Kolaborasi DLH dan Dinas Koperasi UMKM Sultra Panen Lele 2,5 Ton di Konawe

MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama Dinas Koperasi dan UMKM Sultra melalui program 100 hari kerja Gubernur Sultra Andi Sumangerukka berhasil memanen ikan lele sebanyak 2,5 ton di TPS 3R KMP Bumi Mepokoaso, Kabupaten Konawe. Panen tersebut menjadi bukti nyata implementasi program ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat.

Kepala DLH Sultra, Andi Makkawaru, menjelaskan panen lele tersebut merupakan bagian dari program 100 hari kerja gubernur yang didukung bantuan bibit lele sebanyak 3.000 ekor, terdiri atas 1.000 bibit dari Dinas Koperasi UMKM dan 2.000 bibit dari DLH Sultra.

“Ini bagian dari inovasi Bapak Gubernur melalui program MANTU (Modal Usaha untuk Ibu Rumah Tangga). Salah satunya pengembangan budidaya magot sebagai pakan lele. Tahun 2025, program magot dialokasikan anggaran Rp350 juta dengan sasaran 50 ibu rumah tangga miskin, dan masing-masing mendapat bantuan modal usaha Rp2 juta,” ujar Andi Makkawaru, Senin (26/1/2026).

Ia menambahkan, magot yang dibudidayakan masyarakat dimanfaatkan sebagai pakan lele, sehingga tercipta rantai usaha produktif berbasis pengelolaan sampah. Setelah masa budidaya, lele dipanen dari tiga unit bioflok dengan hasil mencapai 2,5 ton, menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.

“Ini merupakan implementasi ekonomi sirkular, di mana sampah dapat diolah menjadi sumber ekonomi baru. Sampah saat ini menjadi perhatian nasional dan perlu dikelola secara inovatif,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sultra, Dr. La Ode Muhamad Shalihin, menyampaikan panen lele di Konawe merupakan hasil pembinaan koperasi bersama DLH Sultra sejak peluncuran program 100 hari gubernur.

“Budidaya lele bioflok ini memanfaatkan magot sebagai pakan yang juga merupakan hasil binaan program pemberdayaan masyarakat. Koperasi membina kelompok usaha, sementara DLH membina pengelolaan magot. Hasilnya kini sudah dirasakan masyarakat, terutama anggota koperasi dan warga sekitar,” jelas Shalihin.

Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu yang berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. (sal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

;