MEDIATAMASULTRA.COM, KONAWE SELATAN – Dalam upaya menanamkan kesadaran konservasi sejak dini, tim dosen Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar serangkaian sosialisasi di desa penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Kegiatan ini menyasar tiga jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA, dengan tema yang disesuaikan dengan karakteristik usia peserta.
Sosialisasi dilaksanakan di dua lokasi. Untuk siswa SD dan SMP Negeri 010 SATAP, kegiatan mengusung tema “Hutan Sehat Seperti Sahabat Kita” serta “Ayo Jadi Generasi Penjaga Hutan”. Materi disampaikan secara interaktif oleh mahasiswa Kehutanan FHIL UHO yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik.
Melalui permainan, cerita, dan diskusi sederhana, mahasiswa berhasil menciptakan suasana ceria sambil menyisipkan pesan penting mengenai fungsi hutan sebagai penyedia air, udara bersih, serta rumah bagi satwa liar. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.
Sementara itu, untuk siswa SMA Negeri 22 Konawe Selatan, sosialisasi mengangkat tema “Hutan Lestari, Investasi Masa Depan”. Materi dibawakan langsung oleh dosen Jurusan Kehutanan FHIL UHO, yakni Dr. Umar Ode Hasani, SP., M.Si., dan Dewi Fitriani, S.Hut., M.Si.
Dalam paparannya, Dr. Umar menekankan pentingnya hutan sebagai modal pembangunan berkelanjutan.
“Menjaga hutan Taman Nasional Rawa Aopa bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi juga investasi nyata untuk masa depan. Ekosistem yang lestari akan mendukung perekonomian, ketahanan pangan, dan kualitas hidup generasi mendatang,” tegasnya.
Sementara itu, Dewi Fitriani menyoroti aspek ekologi dan sosial.
“Generasi muda, khususnya siswa SMA 22 Konawe Selatan, adalah ujung tombak konservasi. Pemahaman tentang keseimbangan ekosistem, potensi ekowisata, serta ekonomi kreatif berbasis sumber daya hutan non-kayu akan membuka wawasan sekaligus peluang baru,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, tim PKM berharap sosialisasi tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi mampu memantik aksi nyata sekaligus melahirkan duta-duta muda konservasi di desa-desa penyangga TNRAW. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi langkah konkret dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian hutan. (red)












