MEDIATAMASULTRA.COM, KOLAKA UTARA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara dan Industri Jasa Keuangan (IJK) memperkuat ekosistem komoditas kakao melalui Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED).
Program tersebut diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan, perlindungan risiko, pendampingan, hingga kepastian pasar bagi petani kakao di Kabupaten Kolaka Utara.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari, yakni edukasi keuangan pada Selasa (29/9/2026) yang diikuti 53 petani kakao, kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) PED Komoditas Kakao pada Rabu (30/9/2026) di Aula Kantor Bupati Kolaka Utara. Kegiatan puncak tersebut dihadiri 56 petani.
Program ini dilatarbelakangi potensi besar Kolaka Utara sebagai salah satu sentra kakao di Sulawesi Tenggara. Berdasarkan data Statistik Perkebunan, luas areal perkebunan kakao di Kolaka Utara mencapai 78.969 hektare dengan produksi sekitar 62.260 ton per tahun.
Produksi tersebut menyumbang sekitar 61 persen dari total produksi kakao Sulawesi Tenggara. Sektor ini juga melibatkan sekitar 28.784 keluarga petani.
Namun, di tengah potensi tersebut, petani masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan akses pembiayaan formal, risiko gagal panen akibat faktor cuaca, hingga ketergantungan terhadap pinjaman tidak resmi dengan biaya tinggi.
Melalui Program PED Komoditas Kakao, OJK Sultra bersama pemerintah daerah dan IJK membangun ekosistem close loop yang menghubungkan petani dengan lembaga pembiayaan, penyedia perlindungan risiko, pendamping teknis, serta pihak offtaker.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Kolaka Utara Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H., Kepala OJK Sultra Bismi Maulana Nugraha, Deputi Direktorat Pengembangan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Ario, serta perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara.
Turut hadir Direktur Utama PT BPD Sulawesi Tenggara (Bank Sultra) Andri Permana Diputra Abubakar, Pimpinan BSI KCP Kolaka Maman Firmansyah, Direktur Utama PT BPR Bahteramas Kolaka Utara (Perseroda) Ahmad, S.E., M.M., Pemimpin PNM Cabang Kendari Muhammad Yusbar, Pimpinan Pegadaian Cabang Kolaka Juarmin Rivai, Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kendari Luky Julianto, Wakil Ketua I AAUI Cabang Kendari Triono Priambodo, Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo K., serta Ketua Umum AASI Fauzi.
Dari sisi pemasaran, ekosistem tersebut diperkuat dengan kehadiran pihak offtaker dari PT Comextra Majora, Muh. Yusri Ambo Dai, yang menyatakan kesiapan untuk menjamin penyerapan hasil panen petani.
Selain itu, kegiatan melibatkan penyuluh pertanian lapangan, kelompok tani, penerima manfaat program inklusi keuangan, dan para pemangku kepentingan terkait.
Sebagai landasan kerja sama, MoU Program PED Komoditas Kakao ditandatangani oleh 12 pihak, yakni Bank Sultra, BSI KCP Kolaka, BPR Bahteramas Kolaka Utara, PNM Cabang Kendari, Pegadaian Cabang Kolaka, BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kendari, AAUI Cabang Kendari, AAJI, AASI, PT Comextra Majora selaku offtaker, perwakilan Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Lasusua, serta perwakilan Kelompok Tani Monapa Bersatu.
Program tersebut tidak hanya berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi langsung direalisasikan melalui penyaluran pembiayaan dan perlindungan risiko kepada petani.
Bank Sultra menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp1,25 miliar. Sementara PNM menyalurkan pembiayaan Mekaar sebesar Rp22 juta dan BPR Bahteramas Kolaka Utara merealisasikan kredit produktif dengan total Rp130 juta.
Dari sisi perlindungan sosial, BPJS Ketenagakerjaan menyerahkan kartu kepesertaan kepada lima petani sekaligus memberikan santunan Jaminan Kematian kepada ahli waris senilai Rp42 juta.
Asuransi Sinar Mas juga memberikan perlindungan berupa polis asuransi jiwa gratis selama satu tahun kepada 50 ketua kelompok tani di Kolaka Utara.
Dukungan lainnya diberikan dalam bentuk bantuan sarana produksi pertanian. Bank Sultra menyerahkan 12 unit sarana pertanian berupa alat semprot atau sprayer elektronik dan jaring jemur kepada 10 petani.
BPR Bahteramas Kolaka Utara juga memberikan bantuan kepada dua petani serta tambahan tiga unit alat sprayer. Sementara Pegadaian menyerahkan tabung semprot kepada empat petani.
Kepala OJK Sultra Bismi Maulana Nugraha mengatakan, melalui Program PED Komoditas Kakao, petani tidak lagi berjalan sendiri karena telah masuk dalam ekosistem close loop yang terintegrasi.
“Petani mendapatkan pendampingan teknis secara intensif, memperoleh akses pembiayaan dari IJK yang disesuaikan dengan siklus panen, terlindungi oleh program jaminan sosial serta asuransi pertanian, dan mendapatkan kepastian pasar melalui komitmen offtaker,” kata Bismi.
Ia juga mengingatkan agar pembiayaan produktif yang disalurkan dapat digunakan secara tepat sasaran. Menurutnya, pembiayaan sebaiknya disalurkan langsung kepada penyedia sarana produksi pertanian untuk menghindari potensi penyalahgunaan dana atau side streaming.
Dengan demikian, kredit yang diterima petani benar-benar digunakan untuk kebutuhan produktif seperti pupuk dan peralatan penunjang kebun, bukan dialihkan untuk konsumsi pribadi.
“Ukuran keberhasilan kita bukanlah seberapa banyak tanda tangan yang dibubuhkan hari ini, tetapi bagaimana kondisi kebun menjadi jauh lebih produktif dan dompet para petani menjadi lebih tebal pada tahun-tahun mendatang. Nota Kesepahaman ini bukanlah garis finis, melainkan sebuah garis start dari komitmen panjang kita bersama untuk memajukan kesejahteraan petani kakao di Kolaka Utara,” tegas Bismi.
Sementara itu, Bupati Kolaka Utara Nur Rahman Umar menyampaikan apresiasi atas inisiatif OJK Sultra bersama seluruh mitra industri jasa keuangan dalam memperkuat sektor kakao di daerahnya.
Menurutnya, program tersebut menjadi peluang bagi petani untuk memperoleh akses pembiayaan formal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak dan pinjaman tidak resmi dengan biaya tinggi.
Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara, kata dia, berkomitmen memberikan dukungan, baik dari sisi kebijakan maupun penyediaan data yang akurat, sehingga kolaborasi lintas sektor tersebut dapat mendorong petani kakao menjadi lebih mandiri dan sejahtera. (red)












