MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara merilis sejumlah indikator strategis terbaru yang mencakup inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor-impor, transportasi, hingga perkembangan pariwisata.
Kepala BPS Sulawesi Tenggara, Hadi Susanto, menyampaikan data tersebut dalam siaran pers yang digelar di Kantor BPS Sultra, Senin (4/5/2026).
Dalam rilis tersebut, tercatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Sulawesi Tenggara pada April 2026 sebesar 2,98 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Baubau yang mencapai 4,08 persen. Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) pada April 2026 sebesar 0,50 persen.
Dari sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tenggara pada April 2026 tercatat sebesar 98,15. Angka ini mengalami penurunan 0,41 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 98,55.
Pada sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 mencapai US$347,36 juta atau meningkat 7,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$324,50 juta. Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar US$335,29 juta atau melonjak 278,24 persen dibandingkan Maret 2025.
Di sektor transportasi, jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat dari Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 mencapai 75.360 orang. Jumlah ini meningkat signifikan sebesar 60,60 persen dibandingkan Februari 2026 yang tercatat 46.925 orang.
Peningkatan juga terjadi pada angkutan laut domestik. Pada Maret 2026, jumlah penumpang yang berangkat tercatat sebanyak 179.820 orang, naik 99,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 90.082 orang.
Sementara itu, dari sektor pariwisata, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Sulawesi Tenggara pada Maret 2026 tercatat sebesar 25,11 persen. Angka ini mengalami penurunan 3,59 poin dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 28,70 persen.
Data ini menunjukkan dinamika perekonomian Sulawesi Tenggara yang cenderung bergerak variatif, dengan peningkatan pada sektor perdagangan dan transportasi, namun mengalami tekanan pada sektor pertanian dan pariwisata. (red)












