MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Kawasan Eks MTQ di Kendari kini menjelma menjadi salah satu pusat keramaian baru yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Deretan tenant kuliner, aktivitas UMKM yang semakin hidup, hingga membludaknya pengunjung dalam gelaran Harmoni Sultra menjadi bukti bahwa ruang publik ini telah tumbuh sebagai simpul ekonomi baru di ibu kota Sulawesi Tenggara.
Namun di balik geliat tersebut, muncul tantangan yang tak bisa diabaikan. Kawasan yang semakin ramai harus diimbangi dengan pengelolaan yang tertib, terukur, dan berkelanjutan agar tetap nyaman dan layak dikunjungi.
Direktur Perumda Utama Sultra, Akhmad Rizal, menilai evaluasi selama tiga hari pelaksanaan Harmoni Sultra menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan MTQ membutuhkan sistem yang kuat, tidak sekadar mengandalkan tingginya antusiasme pengunjung.
Menurutnya, mobilitas masyarakat yang tinggi membawa konsekuensi besar, mulai dari persoalan kebersihan, keamanan, penataan parkir, hingga ketertiban pelaku usaha yang beraktivitas di dalam kawasan.
“Ramainya pengunjung tentu berdampak positif bagi UMKM karena pendapatan mereka meningkat. Namun, kita juga harus jujur melihat adanya beban pengelolaan yang perlu dipikirkan bersama, seperti sampah, keamanan, kebersihan, hingga penataan kawasan agar tetap nyaman,” ujar Rizal, Senin (27/4/2026).
Selama pelaksanaan Harmoni Sultra, volume sampah di kawasan tersebut meningkat signifikan. Di sisi lain, petugas kebersihan, keamanan, hingga pengelola parkir harus bekerja ekstra untuk menjaga kawasan tetap tertib dan representatif.
Perumda juga mencatat bahwa pengelolaan kawasan MTQ tidak hanya membuka ruang usaha bagi pelaku UMKM, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, mulai dari tenaga kebersihan, petugas parkir, hingga unsur keamanan yang terlibat dalam operasional kawasan.
Karena itu, Rizal menegaskan pentingnya membangun skema pengelolaan berkelanjutan yang adil dan proporsional. Salah satu opsi yang mengemuka adalah penerapan iuran pengelolaan, namun dengan pendekatan yang tidak memberatkan pelaku UMKM.
Ia menekankan bahwa skema tersebut bukanlah beban tambahan, melainkan bentuk partisipasi bersama untuk menjaga kawasan tetap hidup, tertib, dan nyaman.
“Yang dibangun bukan sekadar menarik pungutan, tetapi menciptakan kawasan usaha yang sehat. Jika kawasan ini bersih, aman, parkir tertata, dan pengunjung merasa nyaman, maka UMKM yang paling merasakan manfaatnya,” jelasnya.
Ke depan, kawasan MTQ diproyeksikan tidak hanya menjadi pusat kuliner dan ruang berkumpul keluarga, tetapi juga berkembang sebagai kawasan ekonomi kreatif yang memadukan aktivitas usaha, hiburan, serta seni budaya dalam satu ekosistem yang tertata.
Harmoni Sultra telah membuktikan bahwa ketika sebuah kawasan menjadi ramai, tata kelola bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Bagi UMKM di kawasan MTQ, pengelolaan yang berkelanjutan menjadi kunci agar geliat ekonomi yang tumbuh saat ini dapat terus bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. (red)












