MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Komitmen menyelamatkan Jeruk Siompu dari ancaman kepunahan terus diperkuat melalui kolaborasi antara tokoh masyarakat, petani, dan Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI). Komitmen tersebut diwujudkan dengan penanaman bibit jeruk baru di sela panen raya Jeruk Siompu hasil penelitian dan kerja sama AMI bersama Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), yang berlangsung di Desa Biwinapada, Kecamatan Siompu, Selasa (28/7/2026)
Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tim peneliti, tokoh adat, tokoh masyarakat, petani, hingga siswa MAN 1 Siompu Selatan sebagai bagian dari edukasi sekaligus regenerasi tanaman endemik yang sempat terancam punah.
Penanaman bibit dipimpin Ketua AMI, Prof. Hj. Husna, didampingi Sekretaris AMI Prof. Dr. Faisal Danu Tuheteru, S.Hut., M.Si., bersama Dr. Dahlan, S.Pd., M.Si., dan La Baali, S.Pd. Hadir pula Parabela La Guuba, Kepala MAN 1 Siompu Selatan Safiaudin Samparadja, S.Pd., serta tokoh masyarakat Marsudin, La Yiu, La Fau, dan Ruslan Magu, BA.
Ketua AMI, Prof. Hj. Husna, mengatakan penanaman bibit baru merupakan simbol keberlanjutan program penyelamatan Jeruk Siompu yang telah berjalan sejak 2021. Menurutnya, keberhasilan panen raya harus menjadi momentum untuk memperluas pelestarian tanaman khas Pulau Siompu tersebut melalui keterlibatan aktif masyarakat.
“Hari ini kita panen raya jeruk yang sudah berbuah, sekaligus menanam bibit baru bersama tokoh masyarakat dan siswa MAN 1 Siompu. Kita berharap masyarakat memiliki semangat yang sama untuk terus melestarikan Jeruk Siompu agar tidak punah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, secara alami Jeruk Siompu yang berasal dari biji membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun untuk mulai berbuah. Namun melalui penerapan teknologi pupuk hayati mikoriza, tanaman dapat memasuki fase generatif lebih cepat, bahkan sebelum berusia tiga tahun.
Sejak 2021 hingga 2023, program pengembangan Jeruk Siompu telah menghasilkan penanaman sekitar 500 pohon yang tersebar di lima lokasi di Kecamatan Siompu dengan luasan lahan antara seperempat hingga satu hektare.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian plasma nutfah lokal yang memiliki nilai historis, budaya, sekaligus potensi ekonomi bagi masyarakat Pulau Siompu.
Dukungan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program. Ruslan Magu, pemilik kebun di Desa Biwinapada, mengaku bersyukur karena tanaman yang dirawatnya kini telah mulai berbuah.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari perawatan intensif, mulai dari penggunaan pupuk kandang hingga penimbunan akar yang muncul ke permukaan tanah.
“Kami sangat bersyukur karena tanaman ini sudah mulai menghasilkan buah. Harapan kami, program penyelamatan Jeruk Siompu terus berlanjut dengan dukungan fasilitas yang memadai sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” kata Ruslan.
Melalui panen raya yang dibarengi penanaman bibit baru ini, AMI bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan tokoh masyarakat berharap pelestarian Jeruk Siompu terus berkelanjutan.
Selain menjaga keberadaan varietas endemik yang menjadi identitas Pulau Siompu, program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan komoditas hortikultura unggulan daerah. (red)












