MEDIATAMASULTRA.COM, KONSEL – Anggota Komisi IV DPR RI, Jaelani, mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat program irigasi dan pompanisasi sebagai langkah mitigasi menghadapi fenomena El Nino yang berpotensi menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah, khususnya Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dorongan tersebut disampaikan Jaelani usai menghadiri pelepasan ekspor perdana 1.027 ton tepung tapioka dan minyak kelapa, komoditas unggulan Sultra, ke China dan Malaysia di PT Agri Cassava Makmur, Jalan Transmigrasi UPT Arongo, Desa Landono, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Kamis (10/9/2026).
Jaelani mengatakan, fenomena El Nino merupakan persoalan yang terjadi secara nasional sehingga diperlukan langkah mitigasi yang terencana untuk mengantisipasi dampaknya terhadap sektor pertanian.
“Kalau bicara fenomena ini, memang fenomena El Nino yang terjadi di seluruh Indonesia. Kami di Komisi IV sudah melakukan RDP dengan Kementerian Pertanian,” kata Jaelani saat diwawancarai awak media.
Menurutnya, secara teknis pihaknya telah mendorong Kementan untuk memperkuat program irigasi serta pompanisasi guna membantu petani menghadapi ancaman kekeringan.
Khusus di Sultra, kata Jaelani, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini mengingat kekeringan merupakan fenomena alam yang berpotensi terus terjadi.
“Mau tidak mau ke depan kita harus sudah ada mitigasi. Artinya, mitigasi yang dilakukan apa? Pertama, menyiapkan fasilitas irigasi yang baik,” ujarnya.
Ia menyebutkan, Sultra saat ini memiliki dua bendungan besar. Selain itu, terdapat dorongan pembangunan bendungan baru untuk memperkuat ketersediaan sumber air bagi sektor pertanian.
Jaelani juga menekankan pentingnya pembenahan jaringan irigasi, mulai dari irigasi primer, sekunder hingga tersier agar dapat berfungsi secara optimal dan memberikan manfaat secara tepat sasaran bagi petani.
“Jadi, irigasi primer, sekunder, tersier itu mesti kita dorong supaya dikerjakan secara baik dan memberikan manfaat yang tepat sasaran,” jelasnya.
Selain pembangunan dan pembenahan irigasi, Jaelani mendorong penguatan program pompanisasi. Program tersebut dinilai penting untuk membantu mengalirkan air dari sungai maupun sumber perairan lainnya ke lahan persawahan dan kawasan pertanian ketika terjadi kekeringan.
“Di kita, dalam aspirasi itu ada namanya pompanisasi. Itu bantuan semacam pompa untuk menarik air dari sungai atau kawasan perairan untuk dialirkan ke sawah atau kawasan pertanian,” katanya.
Menurut Jaelani, setidaknya terdapat tiga hal yang harus menjadi perhatian dalam menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino, yakni pembangunan dan penguatan bendungan, optimalisasi jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier, serta program pompanisasi.
Ia menegaskan, keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
“Lagi-lagi saya ingin sampaikan, kalau kita tidak berkolaborasi, susah. Kalau pun kami anggota DPR punya kewenangan untuk mendorong maksimalisasi anggaran di sektor pertanian, tapi kalau pemerintah provinsi dan pemerintah daerah tidak membawa kolaborasi bersama, agak berat,” tegasnya.
Karena itu, Jaelani berharap pemerintah daerah di Sultra dapat memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah pusat dalam menghadapi fenomena El Nino.
“Ke depan saya sangat berharap, fenomena ini mungkin akan terus ada. Kalau tidak mau, yang harus kita lakukan adalah tiga hal tadi, yaitu mitigasi,” pungkasnya. (sal)












