Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, dan dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah (OPD), serta aparatur sipil negara (ASN) lingkup Pemerintah Provinsi Sultra.
Nurhaena mengaku bahagia dan terharu mendapat kepercayaan untuk membacakan Pancasila di hadapan Gubernur Sultra dan jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Sultra.
Ia mengungkapkan, dirinya mendapat informasi mengenai penunjukan tersebut secara mendadak pada Rabu (30/9/2026) sore. Setelah mendapat telepon dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra, ia langsung diminta mengikuti gladi untuk persiapan upacara.
“Kalau tanggapannya, saya secara pribadi bahagia. Alhamdulillah, luar biasa. Kemarin sore tiba-tiba saya ditelepon dari Dinas Provinsi Sulawesi Tenggara untuk didaulat menjadi pembaca Pancasila di Kantor Gubernur,” kata Nurhaena kepada awak media.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, terlebih dirinya dapat membacakan Pancasila secara langsung di hadapan Gubernur Sultra bersama seluruh pejabat dan peserta upacara.
“Alhamdulillah, dari Dinas Provinsi dan semua yang hadir mendengarkan saya saat membacakan Pancasila. Saya bersama rekan dari SMA 4 yang membacakan Undang-Undang Dasar, kami mendapat apresiasi yang luar biasa. Itu yang membuat kami terharu,” ujarnya.
Nurhaena menyebut kesempatan tersebut merupakan pengalaman pertamanya menjadi pembaca Pancasila dalam upacara di Kantor Gubernur Sultra. Ia mengaku sempat merasa gugup karena harus membaca teks dalam suasana yang sangat hening.
“Pertama kali membaca di Kantor Gubernur, ada nervous-nya juga. Saya lebih baik disuruh berbicara di depan orang banyak tanpa teks pun bisa. Tapi kalau disuruh membaca dan tidak boleh ada suara sedikit pun, hanya saya yang bersuara, itu yang membuat saya nervous,” tuturnya.
Meski sempat gugup, Nurhaena berusaha tetap tenang dan percaya diri. Ia juga bersyukur seluruh rangkaian upacara berjalan dengan lancar.
“Alhamdulillah, saya yakin Tuhan melindungi saya. Dan tadi Pak Gubernur sendiri menyaksikan, seluruh pejabat di Sulawesi Tenggara juga menyaksikan,” katanya.
Nurhaena merupakan guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Kendari. Ia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas XI dan XII.
Selain berprofesi sebagai guru, Nurhaena juga memiliki pengalaman dalam Resimen Mahasiswa (Menwa). Ia menyebut mulai mengikuti pendidikan Menwa pada sekitar tahun 1990.
“Kalau saya di Resimen Mahasiswa, tahun 1989, kemudian tahun 1990 saya pendidikan Resimen Mahasiswa,” jelasnya.
Ia berharap pengalaman menjadi pembaca Pancasila pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila tersebut menjadi momentum untuk terus menumbuhkan semangat nasionalisme, khususnya di lingkungan pendidikan.
Bagi Nurhaena, kepercayaan tersebut bukan hanya menjadi pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan sebagai seorang guru yang dapat mengambil bagian dalam momentum kenegaraan di tingkat Provinsi Sultra.
Editor: Faysal Ahmad












