MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Perkebunan dan Hortikultura telah menyusun Rencana Aksi (Road Map) Hilirisasi Perkebunan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2026–2030 sebagai langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kebijakan ini sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, yakni “Terwujudnya Sulawesi Tenggara Maju Menuju Masyarakat Aman, Sejahtera dan Religius.”
Dalam mendukung visi tersebut, Dinas Perkebunan dan Hortikultura memfokuskan programnya pada misi kedua, yaitu: “Menumbuhkan Perekonomian Melalui Konektivitas dan Penguatan Potensi Pertanian dalam Arti Luas, Maritim serta Dunia Usaha.”

Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara, LM Rusdin Jaya, menjelaskan bahwa hilirisasi perkebunan memiliki berbagai manfaat strategis, di antaranya:
1. Meningkatkan Nilai Tambah: Hilirisasi perkebunan dapat meningkatkan nilai tambah produk perkebunan dengan mengolah bahan baku menjadi produk yang lebih bernilai.
2. Meningkatkan Pendapatan Petani: Dengan hilirisasi, petani dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan menjual produk yang telah diolah dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
3. Meningkatkan Daya Saing: Produk perkebunan yang telah diolah dapat memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar domestik dan internasional.
4. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat: Hilirisasi perkebunan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan.
5. Meningkatkan Kontribusi terhadap Perekonomian: Hilirisasi perkebunan dapat meningkatkan kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional dan daerah.
6. Mengurangi Ketergantungan pada Ekspor Bahan Baku: Dengan hilirisasi, produk perkebunan dapat diolah dan dijual dalam bentuk produk jadi, sehingga mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan baku.
7. Meningkatkan Inovasi dan Teknologi: Hilirisasi perkebunan dapat mendorong inovasi dan pengembangan teknologi dalam pengolahan produk perkebunan.
“Hilirisasi perkebunan adalah strategi jangka panjang yang kami yakini mampu memperkuat struktur ekonomi daerah serta memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujar Rusdin Jaya.
Adapun komoditas utama yang menjadi fokus dalam Road Map Hilirisasi Perkebunan 2026–2030 meliputi: kakao, mete, tebu, kelapa, nilam, aren, dan sagu.
Rusdin juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus memastikan implementasi rencana aksi ini berjalan sesuai ketentuan.
“Sesuai arahan Bapak Gubernur, kami akan menjamin agar manfaat dari hilirisasi ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya dalam ketahanan pangan di subsektor perkebunan dan hortikultura,” tutupnya. (Adv)












