MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki potensi besar dalam pengembangan budidaya tanaman nilam, yang selama ini menjadi salah satu komoditas penghasil minyak atsiri unggulan. Potensi ini disampaikan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Dr. La Ode Muhammad Rusdin Jaya.
Menurut Rusdin, beberapa wilayah di Sultra memiliki produksi nilam yang melimpah. Wilayah Konawe Selatan serta sejumlah daerah kepulauan seperti Muna, Muna Barat, dan Baubau dinilai sangat potensial berdasarkan data tanam dan panen yang dimiliki dinasnya.
“Kita melihat produksi nilam di beberapa titik sangat menjanjikan. Namun, tantangannya ada pada cara budidaya dan pengelolaan pasca panen yang masih konvensional. Ini yang harus kita benahi,” ujar Rusdin saat diwawancarai diruang kerjanya, Kamis (10/7).
Ia menyebutkan bahwa Pemprov Sultra saat ini tengah berupaya mengedukasi para petani untuk meninggalkan metode lama dalam membudidayakan nilam. Mulai dari pembukaan lahan, proses penanaman, hingga pasca panen, semuanya perlu ditingkatkan agar kualitas minyak nilam yang dihasilkan dapat memenuhi standar pasar internasional.
“Contohnya dalam penyimpanan minyak nilam, masih banyak yang menggunakan drum biasa. Ke depannya, kami dorong penggunaan wadah yang lebih higienis seperti tangki stainless steel,” tambahnya.
Dinas Perkebunan dan Hortikultura juga mengimbau agar petani mulai menerapkan jarak tanam yang konsisten dan memanfaatkan sistem tumpang sari, seperti menanam nilam di sela-sela tanaman jagung atau tanaman lainnya. Strategi ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi petani.
Pemerintah provinsi pun berencana mendorong terbentuknya sentra-sentra budidaya nilam di daerah-daerah potensial. Namun demikian, salah satu tantangan besar adalah harga nilam yang cenderung fluktuatif.
“Dua negara pembeli utama minyak nilam kita adalah India dan Prancis. Mereka memiliki perantara di lapangan yang kerap memainkan harga. Pernah nilam dihargai Rp2,5 juta per kilogram, tapi kini hanya Rp650 ribu. Ini sangat merugikan petani,” ungkap Rusdin.
Untuk itu, pihaknya mendorong agar pemerintah pusat menetapkan harga dasar nilam, sebagaimana komoditas lain seperti jagung, gabah, dan ubi. Dengan adanya harga acuan, petani nilam bisa mendapatkan kepastian dan jaminan harga yang layak.
Pada tahun 2024, Konawe Utara tercatat sebagai daerah dengan luas panen nilam terbesar di Sultra, yakni mencapai 1.912 hektare dengan estimasi produksi sekitar 350 ton. Sementara itu, tren produksi mulai bergeser ke Konawe Selatan dan wilayah kepulauan.
“Kita optimistis jika didukung oleh kebijakan yang tepat, Sulawesi Tenggara bisa menjadi pusat produksi nilam nasional,” tutup Rusdin. (FA)












