BerandaDaerah

Waspada Campak Mudah Menular, Dinkes Sultra Gencarkan Deteksi Dini

×

Waspada Campak Mudah Menular, Dinkes Sultra Gencarkan Deteksi Dini

Sebarkan artikel ini
dr. Andi Edy Surahmat. (FOTO: FAYSAL/MS)
dr. Andi Edy Surahmat. (FOTO: FAYSAL/MS)

MEDIATAMASULTRA.COM, KENDARI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra) memperketat pengawasan terhadap potensi penyebaran penyakit campak pasca libur Idul Fitri 1447 Hijriah. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya tren kasus campak secara nasional, sekaligus mengantisipasi dampak mobilitas tinggi masyarakat selama masa liburan.

Kepala Dinkes Sultra, dr. Andi Edy Surahmat, mengungkapkan bahwa hingga saat ini jumlah kasus campak di wilayah Sultra masih tergolong rendah dan belum menunjukkan penyebaran signifikan. Meski demikian, kewaspadaan tetap menjadi prioritas, terutama terhadap kelompok rentan seperti bayi yang belum mendapatkan imunisasi dasar.

“Kasus di Sultra masih satu-dua pasien dan belum menyebar luas. Tetapi kita tetap harus waspada, karena penularan campak ini sangat cepat melalui udara, apalagi setelah adanya pertemuan-pertemuan saat Lebaran,” ujarnya saat diwawancarai awak media, Senin (30/3/2026).

Ia menjelaskan, virus campak memiliki masa inkubasi sekitar 14 hari sebelum gejala muncul secara klinis. Dalam periode tersebut, penderita yang belum terdeteksi tetap dapat menularkan virus melalui percikan droplet di udara, mirip dengan mekanisme penularan tuberkulosis.

Untuk itu, Dinkes Sultra telah mengeluarkan edaran kewaspadaan kepada seluruh fasilitas kesehatan di kabupaten/kota agar meningkatkan deteksi dini melalui sistem surveilans. Tenaga kesehatan juga diminta melakukan pelacakan terhadap kontak erat pasien guna mencegah penyebaran lebih luas.

“Selama masa inkubasi itu, pasien bisa menularkan ke orang lain. Karena itu kami minta jajaran kesehatan aktif melakukan identifikasi dan pengawasan, terutama pada keluarga yang sempat berinteraksi dengan pasien,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat diimbau menerapkan langkah pencegahan sederhana, seperti menggunakan masker di tempat keramaian serta membatasi interaksi jika terdapat anggota keluarga yang menunjukkan gejala.

Ia juga menyoroti risiko fatalitas campak yang kerap diabaikan. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi juga dapat memicu komplikasi serius hingga kematian, terutama pada bayi di bawah usia sembilan bulan yang belum mendapatkan imunisasi.

“Gejala awal biasanya demam tinggi, kemudian muncul bintik-bintik kemerahan. Namun yang paling kita khawatirkan adalah komplikasinya. Pada bayi, campak sering menyebabkan diare berat yang berujung dehidrasi akut dan bisa menyebabkan kematian,” tegasnya.

Ia menambahkan, banyak kasus kematian pada bayi yang sebenarnya dipicu oleh campak, namun kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa. Karena itu, orang tua diminta memastikan anak mendapatkan imunisasi campak tepat waktu, yakni pada usia sembilan bulan.

“Imunisasi merupakan langkah paling efektif dalam mencegah dampak berat penyakit ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya isolasi mandiri. Jika terdapat anggota keluarga yang terindikasi campak atau sedang menjalani perawatan, sebaiknya menghindari pertemuan selama masa inkubasi guna mencegah penularan.

“Kalau ada keluarga yang terindikasi campak, sebaiknya jangan berkumpul dulu. Ini bentuk tanggung jawab bersama agar tidak menularkan ke anak-anak lain,” tambahnya.

Hingga kini, Dinkes Sultra masih menunggu perkembangan situasi dalam kurun waktu 14 hari pasca Lebaran untuk memastikan tidak terjadi lonjakan kasus.

“Alhamdulillah sampai hari ini kami belum menerima laporan signifikan. Kami masih menunggu 14 hari ke depan, karena Lebaran baru saja berlalu. Kami akan terus evaluasi dan menjaga kewaspadaan,” pungkasnya. (sal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!